Selasa, 10 November 2015

Efek Rumah Kaca: Banal, Klise, Elegi, dan Ekspektasi Tinggi

Tiga kata yang tercantum di judul tersebut, yaitu ‘Banal’, ‘Klise’, dan ‘Elegi’ adalah tiga kata yang lima tahun lalu berhasil menyita perhatian banyak penikmat musik di Indonesia. Tak pelak, tiga kata itu pun kemudian melekat erat dengan tiga kata pertama yang tertera pada judul di atas, Efek Rumah Kaca. Sebuah band yang memberi nama pada kelompoknya dengan nama yang paling akrab dengan isu global paling santer saat itu. Siapa sangka kata-kata Efek Rumah Kaca yang awalnya hanya bisa ditemui di penjelasan ilmiah dan seringkali akademis tentang bumi itu akhirnya menjadi identitas suatu kelompok musik.

Trio pop minimalis ini mampu membuat pendengar musik di negeri ini menengok kea rah mereka ketika jejeran lirik-lirik lagu nan puitis dan tidak akrab dibaca mereka suguhkan dengan musik pop yang terkadang terbalut dengan nuansa gelap. Pernyataan yang membungahnya adalah ketika label “Penyelamat Musik Indonesia” disematkan pada mereka. Walaupun kental dengan subjektivitas, tetap saja ada kesepakatan kolektif diam-diam di antara beberapa orang yang mengamini.

Mengawali gebrakan di tahun 2007 lewat debut album ‘Efek Rumah Kaca’, mereka berlanjut mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu band yang paling sering dilirik di industri musik Indonesia saat ini (tentunya tidak hanya sebatas lirikan lintas channel di layar kaca) dengan merilis album ‘Kamar Gelap’ di tahun 2009. Ganjaran ‘Album Terbaik 2009’ peringkat 1 versi Rolling Stone Indonesia pun diterima. Citra sebagai band cerdas yang didapat dari pesan-pesan lagunya pun didapat. Bahkan kerap meramaikan acara diskusi-diskusi politik yang menghadirkan mereka sebagai hiburan.

Efek Rumah Kaca, Identitas nan Fenomenal

Kita sepertinya harus setuju ketika ada pendapat yang mengatakan bahwa kehadiran Efek Rumah Kaca sangatlah fenomenal untuk kondisi saat itu. Masih ingat jelas saat mereka menghajar tren band-band melayu yang mengobral cinta bersyahwat lemah lewat lagu ‘Cinta Melulu’. “Apa mungkin karena kuping melayu,suka yang sendu-sendu..” Bukan rasis, tapi faktanya kesenduan memang begitu bisa kita dalami ketika menyimak band-band melayu di layar kaca. Menjamur pelan-pelan dan akut, walaupun pangsa pasarnya (dalam artian untuk masuk TV, dapat label, dan jualan belas kasihan) diakui cukup memikat. Tapi sekali lagi, dalam dalil yang sama, mereka menegaskan bahwa atas nama pasar semua itu menjadi begitu klise.

Seperti melanjutkan ungkapan uneg-uneg mereka tentang cinta, mereka sekali lagi membabat habis, atau setidaknya membuat ratusan orang menjadi gengsi untuk mengumbar cinta, lewat lagu ‘Jatuh Cinta Itu Biasa Saja’. Nomer yang berani meng-counter tradisi hiperbolisasi cinta di masyarakat. Berapa orang yang akhirnya menjadi sok jaim mendengar barisan lirik di lagu itu?

Mereka masih sangat perkasa untuk menancapkan citra sebagai band yang peka dengan kondisi sosial di awal kemunculannya saat menggeber lagu-lagu seperti ‘Bukan Lawan Jenis’ (tentang fenomena cinta sesama jenis), ‘Jalang’ (tentang upaya pembungkaman oleh orang-orang yang tidak ingin diusik), ‘Belanja Terus Sampai Mati’ (tentang budaya konsumerisme yang menjangkiti kaum urban), ‘Efek Rumah Kaca’ (tentang pemanasan global), hingga lagu paling antemik dan patriotik ‘Di Udara’ yang berceloteh tentang Alm. Munir dan semangatnya yang seharusnya tetap dilanjutkan. Lagu ini yang membuat mereka selalu menjadi bahan usulan para penyelenggara acara diskusi politik hingga gerakan #MenolakLupa setiap kali pemberitaan tentang kematian sang aktivis kembali diangkat ke permukaan.

Selanjutnya berisi nomer-nomer renungan nan melankolis tanpa pernah terkesan over romantic. ‘Insomnia’, ‘Debu-Debu Berterbangan’, ‘Melankolia’, ‘Sebelah Mata’, dan ‘Desember’ menjadi bahan renungan yang tidak murahan untuk didengar. Khusus untuk ‘Desember’, ini merupakan – jika boleh dibilang – lagu galau ala Efek Rumah Kaca. Berceloteh tentang hujan, kesepian, dan penantian. Sesuatu yang pasti akan dinyanyikan secara masal di tiap gigs mereka.

Kamar Gelap, Pengukuhan Citra Berkelanjutan

Seolah membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekedar kelompok yang kebetulan pintar agar menarik perhatian, mereka mengeluarkan album keduanya yang bertajuk ‘Kamar Gelap’ yang menyediakan banyak hal yang tak kalah menarik dari album pertama.

Masih peka membombardir dengan isu bunuh diri di ‘Tubuhmu Membiru… Tragis’, ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ menjadi lagu yang akan membuat anak-anak remaja dan kegiatan pamer tubuhnya menunduk malu. Keisengan untuk kesenangan belaka ini berhasil mereka tertawakan di lagu ini.

Bencana karena hujan (‘Hujan Jangan Marah’), harapan membaiknya kondisi negara (‘Menjadi Indonesia’), minimnya kesempatan bagi anak negeri untuk berkembang ketika diskriminasi terpampang (‘Banyak Asap di Sana’), menghargai buku (’Jangan Bakar Buku’), hingga penyuaraan betapa muaknya rakyat dibohongi oleh petinggi-petinggi negara yang korup (‘Mosi Tidak Percaya’).

Kemudian beberapa nomer filosofis untuk merenung khas mereka juga melengkapi album ini, seperti ‘Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa’, ‘Lagu Kesepian’, ‘Kamar Gelap’, ‘Laki-Laki Pemalu’, dan ‘Balerina’. Nampaknya formula lama kembali mereka pakai di kemunculannya yang kedua. Citra sebagai band cerdas pun menguat, penghargaan di dapat, dan pengakuan juga meningkat. Mereka sukses membuat nama mereka semakin diperhitungkan.

Album Ketiga, Ekspektasi dan Tantangan

Dengan kemunculan mereka lewat dua album terdahulu yang membuat mereka disanjung banyak pihak sebagai band cerdas, tentunya Efek Rumah Kaca tidak mau tergelincir dan dicaci jatuh dari tahtanya. Pekerjaan berat pasti ada di pundak ketika ekspektasi para penggemar untuk tidak kecewa dengan kemunculan album ketiga yang masih menjadi misteri.

Apa tema yang akan dibahas lagi? Apa liriknya masih bagus ? Atau mereka akan kelelahan lalu menjadi “biasa”?

Citra yang sudah terlanjur melekat jelas merupakan suatu kebanggaan. Namun di sisi lain, ini merupakan tantangan bagi Efek Rumah Kaca untuk menjadi semakin kokoh atau malah jatuh. Banyak penggemar yang sudah tidak sabar mendapat suntikan materi baru tiap kali datang ke gigs. Meskipun lagu ‘Hilang’ sudah lama dilempar ke khalayak sebagai penanda bahwa mereka masih akan tetap galak mengobrak-abrik kepekaan sosial pendengarnya, tentu penggemar butuh bukti lebih banyak lagi dari sekedar satu lagu. Dibanding dua album yang fenomenal, apa yang bisa dilakukan satu lagu selain memberi decak kagum dan anggukan kepala?

Saya teringat ketika menonton mereka bermain di salah satu gigs. Di tengah penampilan, Cholil sang vokalis mengatakan bahwa album mereka mungkin akan keluar sekitar bulan puasa. Saat tulisan ini saya buat, kita tengah berada di medio bulan puasa. Apa mereka masih butuh waktu lebih lama lagi untuk kembali mengeluarkan album cerdas nan fenomenal tanpa mengurangi tensi yang terdahulu? Saya pribadi masih akan tetap menunggu.




Sumber: efekrumahkaca.net